Blog

katanya dah isi... mana makan2??? mannna???

... (wiken)

a christmas tree
merry christmas epribadeeeh
(thx buat... ehem... yg mo nyamar jadi pu'un)
c'mon dad...
(setahun stl nana jadi ayah kekekkk)
sebuah perayaan untuk kritik :)
salut buat nana yg udah khotbah seharian hehehe
bungkam
nina vs mamas
baru aja menikah kemaren, 24/6/07
selamat yaaaa...
mimpi buruk kesepian
dipotret 3ono
diedit donkee
GO!!! speed racer GO!!!
senin lambat...

Lql hvormtpfs nzh bzm *

Lima detik lebih seantero ruangan kantor mendadak sunyi seperti kuburan. Sofyan yang baru saja melonjak girang dan menjatuhkan segelas air pun ikut-ikutan diam. Tampang bloonnya jadi pusat perhatian. Tapi itu tidak lama. Ruangan kantor seluas dua lapangan basket itu kembali riuh, persis pasar ikan. Saat itulah Sofyan berlari ke meja kerja Galih.

“Gila lo, Yan,” teriak Galih sambil buru-buru menangkap cangkir kopi di mejanya yang hampir saja jatuh tersenggol lengan Sofyan.

“Ha?” Sofyan masih terengah-engah.

“Ha, he, ha, he, aje lo. Tuh kopi hampir aja kena gue,” Galih masih ngedumel sambil memeriksa kemeja kerjanya yang sama sekali tidak terkena percikan kopi.

“Eh, lihat deh, bisa enggak lo tebak ini,” kata Sofyan dengan wajah semringah sembari menunjukkan kertas orat-oretnya kepada Galih.

Di ujung pelangi

Di pangkal kemudi

Yang memulai, sayang

Yang mengakhiri, mati

“Apa ini?”

“Wah lama kalo lo harus mikir dulu,” potong Sofyan sombong. “Itu artinya ‘IKSI’.

“IKSI? Itu kan ikatan mahasiswa jurusan lo dulu,” kata Galih.

“Jurusan lo juga kalee,” timpal Sofyan.

“Iye, trus kenape, tong?” tukas Galih sewot.

“Nah itu dia. Dia kenal gue, Gal!” ujar Sofyan bersemangat.

Galih hanya melihat wajah Sofyan sebentar lalu melengos.

“Masih dia juga yang jadi topik bulan ini?” kata Galih terus ngeloyor pergi membawa cangkir kopinya.

“Gal, Gal, tungguin,” panggil Sofyan sambil tergopoh-gopoh mengejar Galih.

***

dari_sofyan: emang kamu angkatan berapa?

eni_tea: ada dey

dari_sofyan: pasti 90 sekian kan? soalnya gue gak terlalu kenal sama angkatan 2000-an.

eni_tea: mungkin...

dari_sofyan: kok mungkin sih. 90 berapa?

eni_tea: 3-2 6-2 2-1 6-1

dari_sofyan: apaan tuh?

eni_tea: sampai ketemu mas yan... ciao

dari_sofyan: eh tunggu dulu

BUZZ!!!

BUZZ!!!

***

Sore itu Galih sedang memelototi monitor komputer ketika Sofyan dengan wajah kusut menghampirinya.

“Gal, bantuin dong...”

“Lagi sibuk.”

“Gal, gue pusing neh...”

“Auk ah,” jawab Galih sambil terus memelototi monitornya dan kembali serius dengan permainannya.

“Tadi gue ketemu si ekor kuda pas makan siang. Makin cakep aje,” goda Sofyan.

“Udah tahu kok. Gue kan lewat situ tadi siang,” ujar Galih masa bodoh.

“Iya sih, dia juga lihat lo. Pas lihat lo dia bilang gini sama gue...” Sofyan sengaja menggantungkan kalimatnya.

“Enggak penasaran kok,” kata Galih cuek.

“Iya sih, soalnya lo kan enggak tau dia udah putus sama si botak dan dia lagi butuh teman. Gue sih ngajak dia lihat pementasan teater di TIM hari Jumat entar, tadi kita udah pesen tiketnya,” kata Sofyan.

“Trus?” tanya Galih pendek pura-pura tidak penasaran.

“Ya gitu, tapi... kayaknya weekend besok gue bakal sakit deh. Makanya gue lagi mikir ni tiket mendingan gue kasih siapa, ya?” kata Sofyan sambil mengelus-elus dua buah tiket teater.

Sekejap tiket itu sudah berpindah tangan. Galih menyambar tiket itu dan langsung menyimpannya ke dalam saku kemeja.

“Siniin tebakannya,” perintah Galih.

“Giliran ekor kuda aja lo cepet,” Sofyan masih senyum-senyum.

“Udaaah, mana? Kelamaan gue terusin main game lagi neh,” ancam Galih.

“Eee jangan, jangan, ini nih,” Sofyan menyodorkan coretannya.

3-2 6-2 2-1 6-1

Galih masih berpikir ketika ponsel Sofyan berdering pendek, sebuah SMS masuk.

“Eh ekor kuda SMS neh, dia minta tolong temenin ke butik dulu sebelum nonton teater besok. Mending gue jawab apa ya?” goda Sofyan sambil mulai membalas SMS itu.

“Iyain aja. Besok gue yang temenin deh,” jawab Galih cengengesan.

“Siaaaap, Kumendan! Sudah terkirim,” kata Sofyan.

Galih melanjutkan permainan di komputernya, meninggalkan Sofyan yang masih plonga-plongo menunggu jawaban tebakan itu.

“Lho kok enggak dipikirin lagi?” tanya Sofyan kesal.

“Susah banget. Gue enggak tahu jawabannya,” kata Galih.

“Ah bohong lo, tadi gue lihat lo dah cengar-cengir,” ujar Sofyan dengan nada makin kesal.

“Iya sih, cuman kan lo tahu mobil gue masih di bengkel sampe Senin. Terus gue mesti pake apa nganterin dia ke butik besok,” jawab Galih cuek.

“Wah rese lo. Enggak bener lo. Mo minjem mobil aja pake sok-sokan gak mau jawab,” kata Sofyan kesal.

“Jadi... gue dapet mobil neh?” pancing Galih.

“Rese lo, yo wis, cepetan jawab tu dulu,” jawab Sofyan setelah agak lama berpikir untung ruginya.

“Nah gitu dong. Itu baru namanya fasilitator,” sahut Galih sambil terkekeh.

“Ya, udah, cepetan!”

“Napsu amat sih, Mas. Ojo kesusu..., mbok yao, sing sabar,” kata Galih jumawa dan langsung disambung cepat ketika melihat gelagat buruk Sofyan mengangkat cangkir kopi, Itu kode SMS,” jawab Galih secepat kilat.

“Yang artinya...?” Sofyan menggeleng belum mengerti.

“Ambil HP lo terus ketik pake kode itu.”

3-2 6-2 2-1 6-1, itu artinya: pencet angka 3 dua kali, angka 6 dua kali, dan seterusnya,” ujar Galih.

Tak lama Sofyan sudah cengar-cengir.

“Dia anak ‘96, Gal!” Sofyan semangat. “Eh lo masih inget enggak anak ‘96 yang kurus-kurus tinggi, putih, cakep, terus jadi penyanyi waktu itu?”

“Abduh?” jawab Galih sekenanya.

“Geblek, Abduh mah doyannya karaoke doang,” kata Sofyan terkekeh.

“Rahmat?”

“Serius neh, gue lupa namanya, kan lumayan cakep tuh. Kali aja ini dia,” kata Sofyan penuh harap.

“Auk ah, udah... udah.... sono lo pergi ke mana kek. Kan lo dah gue kasih tahu jawabannya,” ujar Galih yang mulai kesal karena sudah dua kali kalah dalam permainannya.

“Sialan,” kata Soyan sambil berlalu.


Telepon di meja Galih berdering saat dia mulai bermain game dari awal lagi.

“Ya, Galih.”

“Gal”

“Apaan lagi sih?” teriak Galih kesal sambil melongok ke bilik Sofyan di ujung ruangan yang diikuti pandangan sebal oleh karyawan lainnya yang mulai merasa terganggu.

“Gue lupa bilang ama lo tadi”

“Bilang apaan?”

“Si ekor kuda ngajak sodaranya juga pas nonton teater itu... tiga orang.... (ceklek)”

“Wah ngehe lo, Yan!” teriak Galih sambil berdiri dan diikuti makian karyawan lainnya yang kesal dengan tingkah mereka berdua sembari melempar kertas, bungkus rokok, korek api, pulpen, setip, kalender meja, remote AC, dan pines sekotak.

***

eni_tea: hi mas yan

dari_sofyan: hi juga... eh kamu anak 96 to

eni_tea: hebat euy ketebak

dari_sofyan: biasa aja kok

eni_tea: iya sih, soalnya bkn kamu kan yg nebak hehehe

dari_sofyan: lho, kok situ tau sih? siapa yg bilang?

eni_tea: ada dey

dari_sofyan: eh ketemuan yuk

eni_tea: boleh aja

dari_sofyan: aseeek, kpn?

eni_tea: terserah

dari_sofyan: bsk, ari sabtu jam 10 gmn?

eni_tea: ok

dari_sofyan: dmn?

eni_tea: 11-1-13-16-21-19

dari_sofyan: buset, tebakan lagi?

eni_tea: daag mas yan

***

Sabtu pagi Sofyan sudah tiba di kampus. Sebuah kejadian langka nan istimewa karena tidak biasanya dia bangun pagi pada hari Sabtu. Pagi masih pukul 9. Mahasiswa yang datang hari itu tidak terlalu banyak. Tapi seperti biasa, kantin kampus tetap ramai pada hari Sabtu. Biasanya banyak alumni yang mampir ke kampus hari Sabtu. Kebanyakan karena janjian dengan sesama alumni dan sisanya adalah alumni yang memang masih betah di kampus.

Pukul 10.15,... 10.23,... 10.24,... Sofyan masih sendiri di mejanya. Pose duduknya sudah berganti puluhan kali. Jus dan bubur ayam di depannya sudah tandas. Sementara si dia, si misterius itu, belum juga tampak.

Pukul 10.45, masih belum ada tanda-tanda. Tapi seorang gadis cantik yang entah dari mana datangnya menghampiri Sofyan.

“Kamu teh eni_tea?” tanya Sofyan sambil tersenyum simpul menahan gembira. Dalam hati dia bersyukur kepada Tuhan karena gadis itu benar-benar cantik, gilang gemilang.

“Buat kamu,” ujar gadis itu sambil memberikan secarik kertas.

“O, iya, thanks, please... have a seat, dear,” jawab Sofyan tengil, setelah berhasil menguasai medan.

Semua bisa berbalik:

Lql hvormtpfs nzh bzm

Pvhrzm ormtormt

Hzozn tzors

*) Terinspirasi dari cerpen di HAI yang bikin gue melewati masa2 membosankan di ruang editing dengan sukaria, ceria, nan riang gembira... halah.

Salut buat Pak Eko

... manakala manusia tanpa ingatan adalah orang gila, maka kota tanpa bangunan kuno bersejarah adalah kota gila.
Eko Budihardjo, Tempo, 24 juni 2007


mengilau
(thx to mona)


munyes lakan... : )
stasiun tawang
(buat desah tumirah)
mosaik di little netherland
bosen setengah mampus
somissdanielmuch rightnow


Iklan tanpa sutradara asing, anugerah atau musibah?

Pemerintah membatasi tenaga asing dalam pembuatan film iklan yang ditayangkan lembaga penyiaran.
Tempo, 3 Juni 2007

versi suka-suka

Beberapa waktu lalu, isu ini—sebelum benar-benar jadi berita—sempat bikin heboh di kantor. Pak bos bingung, dewan direksi pusing, para creative director emoh kerja, dan staf admin yang enggak ngerti masalahnya malah saling tuduh satu dengan yang lain, lempar-lemparan fitnah, dan timbul rasa saling curiga. Yang jadi masalah adalah salah satu iklan rokok yang dibuat kantor kami menggunakan sutradara bule, pengarah fotografi bule, kameramen bule, kru kamera asal Bangkok, dan disunting di negeri seberang. Celakanya lagi, sampai aturan itu resmi dirilis, iklan itu dipastikan masih dalam proses editing.

Tapi itu masih belum seberapa. Belakangan hari tercium kabar, pak bos ternyata baru saja meneken kontrak membuat iklan dengan sutradara asal Bangkok dan menggunakan model asal Amrik. Gawat. Kontrak yang konon kabarnya bernilai luar biasa itu terancam melayang bila benar aturan itu jadi dilaksanakan per 1 Mei 2007. Itu sebabnya dalam minggu-minggu awal sejak isu itu berembus, suasana kantor jadi kurang kondusif, tidak nyaman, dan membuat beberapa karyawan memutuskan untuk pergi liburan. Yang lainnya, ya ikut-ikutan pusing biar dianggap sepemikiran dengan pak bos. Minimal biar dikira turut merasakan kesulitan yang melanda perusahaan. Halah.

Tapi pak bos bukan tipe bos yang gampang ciut nyalinya hanya karena aturan. Suatu saat dia mengaku punya ide untuk menyiasati aturan. Caranya: “Ya sudah, yang jadi sutradara, ya saya saja, yang jadi DOP (director of photography—Red.) ya saya juga, tulis aja begitu. Nanti kita undang saja si Alex (sebut saja nama seorang sutradara asing—Red.) buat nemenin saya, gampang kan,” kata si pak bos berapi-api. Saat itu semua karyawan mengangguk-angguk mengiyakan ucapan pak bos, tak terkecuali staf admin yang perlahan-lahan, walaupun belum jelas benar, mulai mengerti duduk perkaranya. “Emang pak bos bisa jadi sutradara juga? Hebat ya. Berarti cost kita makin kecil dong,” bisik seorang staf admin kepada teman yang berdiri di sebelahnya. “Hush, sembarangan, bujetnya mah tetap keluar, kan buat bayar si bos yang jadi sutradara. Emang dia mau kerja gak dibayar?” tukas si teman dengan wajah tetap cemberut.

versi jualan

Sutradara asing ada banyak macamnya. Ada yang pintar urusan story telling, ada yang pandai mengarahkan adegan untuk ditambahi special effect nantinya, ada yang mahir menghasilkan gambar-gambar bening, cantik, atau biasanya disebut beauty shot, ada juga yang mampu bekerja sangat efisien (proses shooting yang biasanya nyaris 20 jam itu bisa diselesaikan dalam 6-8 jam), lalu ada pula sutradara asing yang pandai berkelakar dan pandai mengambil hati klien.

Dari macam-macam jenis itu, harganya pun berbeda-beda. Yang cuman pandai berkelakar biasanya paling murah. Pada umumnya sutradara jenis ini adalah sutradara asing tua, yang sudah menikah dengan orang Indonesia, dan tinggal di Indonesia sejak belasan atau puluhan tahun silam. Hasil arahan dia, ataupun iklan yang pernah dia buat biasanya tidak terlalu luar biasa. Proses kerjanya pun tidak terlalu cepat. Secara umum, sutradara baru lulus sekolah pun bisa membuat iklan dengan kualitas yang sama. Tapi ada satu perbedaan yang paling mencolok. Beliau bule.

Kita tidak perlu malu bila dikatakan masih silau dengan hal-hal yang berbau asing. Hal itu pula yang terjadi dengan para pemilik produk yang masih sangat awam dengan dunia iklan. Nama si sutradara asing sudah cukup membuat mereka percaya: kampanye produk mereka berada di tangan yang tepat.

Dari sini sudah kelihatan akar permasalahannya. Tulisan ini tidak dibuat untuk menyudutkan salah satu pihak. Para sutradara bule itu hanya pandai memanfaatkan peluang dan jeli melihat kebutuhan. Di sisi lain, pihak biro iklan ataupun pihak rumah produksi pun turut menikmati keuntungan jangka pendek. Keadaan ini berlangsung bertahun-tahun dan mulai dirasakan dampaknya oleh sutradara muda yang salah satunya adalah tipe sutradara baru lulus sekolah tadi.

Tapi sekarang ceritanya bisa berbeda. Bila aturan tentang larangan pembuatan iklan oleh tenaga asing jadi diberlakukan, industri film iklan kita pun pasti berbeda jadinya, meskipun saya pikir tidak lantas jadi maju, berkembang pesat, dan jadi hebat. Yang pasti adalah, gaji sutradara lokal bakal meroket, melaju pesat, dan jadi pemikat bagi semua orang untuk menjadi sutradara.

Sutradara asing yang pandai berkelakar jelas habis diberantas. Sutradara muda belia asal kampus pun bisa naik gajinya, meski kadar penyutradaraannya masih “coba-coba”. Dan yang saya takutkan kemungkinan besar bisa terjadi: Zack Snyder (sutradara iklan yang “coba-coba” bikin film 300 dan sukses itu—Red.) tidak akan pernah mampir ke Indonesia dan menularkan ilmunya kepada masyarakat film iklan kita. Mudah-mudahan ini bukan musibah.

Nah sekarang saya jadi teringat Pak “Alex” si sutradara iklan rokok itu yang membuat saya kagum ketika dia menggunakan hasil jepretan Nikon D2Xs (kamera DSLR) untuk diselipkan di salah satu film iklannya.

hei kamyu :)
(abis garing kalo judulnya matahari... sang surya... surya pro..halah)
ini salah satu alasan mengapa gw harus bawa model hehehe

Teroris blog...

Ada peristiwa seru yang sedang terjadi di blog teman saya. Yang jadi pangkal persoalan sebenarnya sepele, cuma urusan koreksi kata. Teman saya itu mengoreksi pemakaian istilah “bergeming” di blog salah satu seniornya di kampus. Tapi dampaknya luar biasa. Seseorang yang mengaku “sahabat” si senior itu mendadak protes. Peristiwa itu terjadi di media shoutbox.

Protes tentu bukan masalah. Orang bijak biasanya menerima protes atau kritik dengan lapang dada. Yang jadi masalah adalah ketika si pengirim protes melayangkan protesnya tanpa identitas. Wah ini yang repot. Bayangkan bila shoutbox Anda dipenuhi komentar-komentar tak sedap yang tidak disertai identitas.

Tentu masalah seperti ini sangat mungkin terjadi. Toh kita tidak bisa memaksa orang lain untuk tidak menjadi pengecut. Menjadi pengecut itu kan pilihan. Menjadi pemberani juga punya konsekuensi. Tapi kalau dipikir-pikir, di ranah maya nan semu ini saja si “sahabat” tidak punya nyali, kira-kira bagaimana dia menjalani kehidupannya di dunia nyata, ya? Ada yang bisa membayangkan?

Turut berduka atas teror di blog kamyu, cit :)

perahu
menurut hasil survei di kantor, gambar ini biasa2 aja. si abi gak komen, si ida malah nanya foto dia pas di solo, moreno cuma ngelirik sebentar sambil nerusin ngepel, heru trihatmodjo cuma nanya "pake speed berapa tu?"... gw tau sih, sebenernya dia cuma basa-basi. tapi ntah kenapa kok gw tetep suka gambar ini. mungkin karena lokasi motretnya. atau mungkin karena wiken besok mo ke p seribu lagi hehehe. ngiler di pasir emang gak ada duanya. dan pulangnya... pasti ada puluhan gambar gak jelas kayak gini lagi hehehehe. btw, buat abi, ini gambar ombak. hmm...

beberapa hal yang gak ada di sini adalah pusing, deadline, dan dering telepon
surabaya "garage sale" :)

catatan buat "surabaya 'garage sale'"

pertama kali motret rada "serius" dengan modal satu lampu neon.
lokasi di dalam garasi di belakang colours cafe, surabaya.
tengkyu buat lita yang mau jadi model "serius" (sampe naik2 meja segala).


special thanks: sigma 28mm/f1,8: si kecil imut yang berisik tapi nendhyang!
jogja "metal madness" : )
...
....
vs beatles

Musik dan fashion adalah dua hal. Meskipun seringkali bertautan atas nama citra, musik dan fashion adalah dua hal. Beethoven adalah musik dan Fendi adalah fashion.

***

Laiknya juga tulisan ini, selalu ada misi yang dibawakan musisi kala bermusik. Ada yang meneriakkan protes, ada yang merajuk karena patah hati, dan ada pula yang malu-malu meniup ajakan untuk mencoba zat psikotropika. Apa pun itu, selalu ada misi yang terselip di antara nada dan kata-kata. Orion milik Metallica tidak dibubuhi kata-kata dalam komposisinya selain judul itu sendiri. Tapi kita bisa dengan mudah memaknainya.

Musisi yang menamakan musiknya rock n’ roll juga punya misi. Begitu pula blues, jazz, dan punk. Semua jenis musik itu timbul atas nama perlawanan. Perbedaan kelas adalah yang lazim diperjuangkan mengingat masa kemunculan jenis-jenis musik tersebut. Yang paling ngotot mungkin adalah jenis musik punk. Seperti juga Orion, sejatinya musik Sex Pistols tidak butuh syair untuk ikut-ikutan berteriak protes. Tanpa lirik sekalipun, Anarchy in the UK adalah protes. Protes itu sudah santer terasa lewat beat, melodi, dan gelegar ampli yang rasanya tidak melibatkan sound engineer paling top kala itu. Dan nuansa “punk”, musik punk, gairah punk, dan perlawanan punk sudah lengkap sampai di situ. Titik.

***

Tentu saya tidak akan protes bila Johnny, Syd, dan teman-teman memilih menggunakan jaket hitam kumal saat di panggung. Toh siapa pula yang bisa melarang “Joko Lydon” mencukur rambutnya nyaris plontos dan merekatkan sisanya kuat-kuat sehingga bisa berdiri seperti paku? Atau melarang “Billy Idle” berbusana ala sadomasokis? Dan bila bertahun sebelumnya ada empat cowok manis dengan potongan rambut salon, menggunakan jas nyaris seragam, dan mengenalkan rock n’ roll, siapalah mereka yang berhak meradang marah? Toh saya percaya Steve Jones yang telanjang pun adalah punk dan McCartney yang manis adalah penulis besar.

Tapi saya benar-benar dibuat terkejut oleh tingkah badut-badut yang sama sekali tidak bisa bermusik, memetik gitar sekenanya, menyanyi dengan nada sumbang, bergoyang dengan gaya seadanya, dan mengaku Beatlemania, beberapa waktu lalu. Pesolek-pesolek itu tidak pantas mendapat tepuk tangan. Pesolek-pesolek itu harusnya diberi cermin dan dibiarkan berlama-lama mematut-matut dirinya. Diberi bedak dan gincu bila perlu. Konyolnya, para pendengar di situ seperti tidak peduli bunyi apa yang keluar dari tenggorokan dan ampli mereka. Mungkin karena mereka jarang datang ke konser musik atau benar-benar haus hiburan (tapi menolak nonton sinetron karena merasa dirinya terlalu pintar, tidak gampang dibodohi, wahai mereka sang hyang mahakritis). Ini festival musik, Bung! Bukan kontes mirip bintang buat badut seperti mereka!

NB: buat anak punk bau kencur kemaren sore yang berlagak di depan mal dengan pin Nazi di saku kanan jaketnya, seharusnya dia tahu: bahkan anjing pun benci Hitler saat itu.

Concept…concept… siapa?

Gw jatuh cinta. Majalah concept edisi 16 benar-benar meruntuhkan iman melelehkan hati. Covernya… ciamik. Tebelnya… pas di genggaman. Mastheadnya… alleluia! Aduuuh bener-bener bikin bola mata berbinar-binar… pipi merona…. jantung degdegan tak menentu… udah gitu… ih ya ampun setelah masthead… layoutnya mak jaaaaaang…. topnya pol!

Conceptnya udah nyampe dari kemaren sore. Masih di meja kantor. Masih blom berani liat isinya lagi. Takut syok. Haduh pokoknya eleuh-eleuhlah (kalo kata parakanians di kantor “admit… admit… branch baby dah”. Sebenernya ada satu alasan lagi kenapa gw blom buka… Gw kan gak langganan concept. Biasanya kan beli di gunung agung arion. Sekretaris kantor juga gak ngaku kalo dia yg beliin gw. Nah lo.

Catatan: sampe besok kalo gak ada yg ngaku, gw boleh klaim dong. eh boleh kan?... boleh dong. Sebelumnya makasih buat yg salah kirim. Love u full! hihihihi

telefonika