nyusruk
Seorang remaja tersungkur dari motornya. Tadi malam. Sebuah motor lain mendadak muncul memotong jalan. Darahnya kental. Remaja itu tidak mengerang, dia sudah semaput ketika ban belakang motornya sendiri jatuh di atas kepalanya. Rahang kirinya goyah menghantam bumi.
Jalanan remang-remang Kacamataku mana? Sakiiiit sekali Uh ada motor di atas Anjing! Kacamataku mana?
Anjing gw berdarah Uh mulutnya gak bisa ditutup Anjing! Sakit
Entah dari mana kok ada polisi. Oh, dari seberang. Poltabes Kota Bandung persis di seberang TKP.
Terima kasih tuhan.
Dik? Masih sadar?
Iya, Pak.
SIM dan STNK?
Hah?
SIM sama STNK-nya mana?
Hah? Pak, mulut saya keluar darah.
Iya, nanti kita urus. SIM sama STNK-nya mana?
Pak! (dompet akhirnya meluncur dari saku belakang. Si polisi sibuk mencocokkan pelat motor dengan STNK, lalu kembali lagi mencocokkan wajah si remaja dengan SIM)
(Ngebut wae maneeeeeh, jerit sopir angkot dari dalam mobilnya)
Jalanan masih remang-remang Cuma ada bayangan lampu-lampu Lalu lintas macet sampai rel kereta di Merdeka. Sialan, kacamatanya mana sih?
Kamu masih bisa jalan?
Hah?
Ayo ikut saya ke Tabes!
Hah? Pak, telinga, hidung saya ada darah!
Pak polisi sudah menghilang. Samar-samar ada tulisan POLISI di bangunan seberang jalan.
Sialan!
(tiiiiiin tiiiiiiin lebok siah! jerit siapa lagi tuh)
Ambulans datang sepersekian detik kemudian. Remaja itu sudah lama semaput lagi. Terlalu banyak darah terbuang dari mulut, hidung, dan telinga. Kulit kepalanya juga robek.
Uh berat banget Anjing! Gak enak
Sirene ambulans itu meraung-raung. Setelah siuman remaja itu langsung duduk. Tidak enak rasanya terbaring melihat langit-langit ambulans. Rasanya mungkin sama seperti ketika Serpico baru kena tembak. Tidak berdaya, banyak pikiran-pikiran aneh melintas di kepala. Ada rasa takut mati, ada rasa bersalah, ada rasa sendirian.
Sialan enggak pernah kepikiran bakal mati sekarang. Atau cacat seumur hidup. Anjing!
Orang tadi itu emang anjing!
Sirene ambulans itu lumayan ampuh. Meski hanya samar-samar terlihat lampu-lampu belakang mobil-mobil itu minggir memberi jalan.
Dik, kita ke rumah sakit ... dulu buat pertolongan pertama. Kata seorang petugas dari bangku kemudi.
Iya, Pak.
(dari tadi belum ada pertolongan pertama?)
Dik, kamu harus pindah rumah sakit. Ada darah dari telinga, tidak bisa dirawat di sini, harus ke rumah sakit besar. Kata seorang suster di rumah sakit tidak besar itu.
Dik, kita ke rumah sakit ... ya. Kata petugas dari bangku kemudi ambulans.
Jangan, Pak. Kita ke rumah sakit ... saja.
Wah itu harus muter, Dik.
(Muter pale lo peyang, gw tau Bandung geblek!)
Muter bagaimana, Pak? Kan kita tinggal belok di simpang ... trus naik, lurus aja ke atas.
(Gila, taruhan goban, Serpico aja belum tentu harus komplain kayak gitu dalam ambulans)
Remaja itu semaput lagi. Pihak rumah sakit tidak besar tadi sama sekali tidak memberi pertolongan pertama karena sudah keburu takut melihat banyak darah keluar dari telinga. Mereka cuma sempat membuat surat rujukan ke rumah sakit besar.
Di rumah sakit besar, seorang petugas rumah sakit telah siaga seratus persen menunggu remaja itu siuman. Tidak ada tindakan medis, tidak ada perban, tidak ada kasur empuk apalagi suster cantik. Semua masih sama: di bangsal ruang darurat terbaring di atas tandu ambulans bersama petugas ambulans.
Dik, dik, ...sebut nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi untuk menjamin kamu...
14. shoutbox 1
victor: manaaa komennya?
pasirpantaikuta: gw mo kerja gak jd deh
victor: manaaaa?
victor: atau gini aja deh
victor: paling standar, gak usa mikir
pasirpantaikuta: o gt
victor: vic...blog lo keren
victor: dah
victor: titik
victor: atau tambain dikit
victor: ajarin gw dong
victor: naaa gitu kan enak
pasirpantaikuta: blog lu.....?
victor: hah?
pasirpantaikuta: gw gak ngerti lu ngomong ape
pasirpantaikuta: sumpe
pasirpantaikuta: komen dmn
victor: geblek
pasirpantaikuta: hahahahaha
victor: sakit jiwa
victor: kebanyakan paracetamol
pasirpantaikuta: wong edan
pasirpantaikuta: drpd kbnyakan pemanasan
victor: pasti pas kecil kurang dha ama aa
victor: makanya gitu
pasirpantaikuta: lu rese lu
victor: hehehehe
victor: iya kan?
victor: kurang kan lo?
victor: emang blom ada dulu yeeeee
victor: baru setelah 1980 ada tu
victor: makanya anak2 yglahir sebelum 1980 kurang dha
pasirpantaikuta: tp ttp kan lu gak dapet
victor: kekekekkekk
victor: iye sih
victor: baru sampe pulau jawa dan bali
victor: palembang baru 2000an
victor: hahahaha
pasirpantaikuta: ah elu
victor: manaaa komennya?
pasirpantaikuta: gw mo kerja gak jd deh
victor: manaaaa?
victor: atau gini aja deh
victor: paling standar, gak usa mikir
pasirpantaikuta: o gt
victor: vic...blog lo keren
victor: dah
victor: titik
victor: atau tambain dikit
victor: ajarin gw dong
victor: naaa gitu kan enak
pasirpantaikuta: blog lu.....?
victor: hah?
pasirpantaikuta: gw gak ngerti lu ngomong ape
pasirpantaikuta: sumpe
pasirpantaikuta: komen dmn
victor: geblek
pasirpantaikuta: hahahahaha
victor: sakit jiwa
victor: kebanyakan paracetamol
pasirpantaikuta: wong edan
pasirpantaikuta: drpd kbnyakan pemanasan
victor: pasti pas kecil kurang dha ama aa
victor: makanya gitu
pasirpantaikuta: lu rese lu
victor: hehehehe
victor: iya kan?
victor: kurang kan lo?
victor: emang blom ada dulu yeeeee
victor: baru setelah 1980 ada tu
victor: makanya anak2 yglahir sebelum 1980 kurang dha
pasirpantaikuta: tp ttp kan lu gak dapet
victor: kekekekkekk
victor: iye sih
victor: baru sampe pulau jawa dan bali
victor: palembang baru 2000an
victor: hahahaha
pasirpantaikuta: ah elu
15. shoutbox 2
victor: eh buruan
pasirpantaikuta: emang penting ya dia smpe mana
victor: halah
victor: gak usah dibahas
victor: itu aja tulis
victor: goblog
victor: go+blog
pasirpantaikuta: dmn
pasirpantaikuta: go+blog
victor: yeeeeeeee
pasirpantaikuta: hahahahaha
victor: yg name ganti nama lo
victor: trus tulis deh pesan kesan di message
victor: atau nitip pesan aja sekalian
victor: vic, kalo ketemu galih bilang gw di wc
pasirpantaikuta: oooo jd gw ksh komen di blog lu.....?
victor: gak
victor: kasi komen soal mbahnya darwin
pasirpantaikuta: hahahahaha
victor: hehehehe
pasirpantaikuta: gw buka blog lu aja gak
victor: ngehe
victor: da'ah
victor: eh buruan
pasirpantaikuta: emang penting ya dia smpe mana
victor: halah
victor: gak usah dibahas
victor: itu aja tulis
victor: goblog
victor: go+blog
pasirpantaikuta: dmn
pasirpantaikuta: go+blog
victor: yeeeeeeee
pasirpantaikuta: hahahahaha
victor: yg name ganti nama lo
victor: trus tulis deh pesan kesan di message
victor: atau nitip pesan aja sekalian
victor: vic, kalo ketemu galih bilang gw di wc
pasirpantaikuta: oooo jd gw ksh komen di blog lu.....?
victor: gak
victor: kasi komen soal mbahnya darwin
pasirpantaikuta: hahahahaha
victor: hehehehe
pasirpantaikuta: gw buka blog lu aja gak
victor: ngehe
victor: da'ah
16. shoutbox 3
pasirpantaikuta: makanya dr td gw minta link nya
pasirpantaikuta: aaaaaaa dasar
victor: yeeeeeeeeeeeee
victor: http://kodoksakti.blogspot.com/
victor: tuh
pasirpantaikuta: nah gweto
victor: disimpen baek2
victor: jgn ilang
pasirpantaikuta: lu kira gw apal ape
victor: blom tentu bsok gw kasi lagi
pasirpantaikuta: hahahahaha
victor: kan gampang
victor: kodoksakti
victor: di mana?
victor: blogspot
victor: tambain dah titik di tengah
pasirpantaikuta: lu gampang
victor: oiya
victor: lupa
pasirpantaikuta: lha buat gw kan gak
victor: kurang itu sih ya
victor: dha
pasirpantaikuta: ya urusan gw kan banyak bo
pasirpantaikuta: hehehehe
victor: siaaaaaaaaaaaaap
pasirpantaikuta: yasu, trus gw nulis dmn niy
victor: di kanan
victor: di bawah tulisan get a box
victor: naaa ada name
victor: lo ganti dah tu
victor: ama nama yayang lo
victor: trus di message lo tulis
victor: love u more n more
pasirpantaikuta: o di bawah
victor: iye di bawah kasur
pasirpantaikuta: ketindih dunk
victor: hus
victor: jgn gaya misionaris mulu dong
victor: ganti yg laen
pasirpantaikuta: email / url itu .....?
victor: kalo lo punya blog atau prenster, ya masukin di situ
victor: kalo ndak ada, ya pas aja
victor: gak ngurangin poin kok
pasirpantaikuta: makanya dr td gw minta link nya
pasirpantaikuta: aaaaaaa dasar
victor: yeeeeeeeeeeeee
victor: http://kodoksakti.blogspot.com/
victor: tuh
pasirpantaikuta: nah gweto
victor: disimpen baek2
victor: jgn ilang
pasirpantaikuta: lu kira gw apal ape
victor: blom tentu bsok gw kasi lagi
pasirpantaikuta: hahahahaha
victor: kan gampang
victor: kodoksakti
victor: di mana?
victor: blogspot
victor: tambain dah titik di tengah
pasirpantaikuta: lu gampang
victor: oiya
victor: lupa
pasirpantaikuta: lha buat gw kan gak
victor: kurang itu sih ya
victor: dha
pasirpantaikuta: ya urusan gw kan banyak bo
pasirpantaikuta: hehehehe
victor: siaaaaaaaaaaaaap
pasirpantaikuta: yasu, trus gw nulis dmn niy
victor: di kanan
victor: di bawah tulisan get a box
victor: naaa ada name
victor: lo ganti dah tu
victor: ama nama yayang lo
victor: trus di message lo tulis
victor: love u more n more
pasirpantaikuta: o di bawah
victor: iye di bawah kasur
pasirpantaikuta: ketindih dunk
victor: hus
victor: jgn gaya misionaris mulu dong
victor: ganti yg laen
pasirpantaikuta: email / url itu .....?
victor: kalo lo punya blog atau prenster, ya masukin di situ
victor: kalo ndak ada, ya pas aja
victor: gak ngurangin poin kok
14 Tahun Musik Ferdy
Ingat musik semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama, membuat saya teringat pula kepada seorang teman satu sekolah. Ferdy namanya. Kenal secara tidak sengaja, Ferdy akhirnya jadi teman akrab karena ternyata dia juga mengoleksi kaset Guns N’ Roses. Ferdy jatuh cinta dengan Izzy Stradlin ketika anak-anak lain seusia kami mengidolakan Axl yang beringas dan Slash yang cool. Suatu hari dia cerita Izzy itu teman dekat Axl. Sama-sama dari Lafayette, Indiana, dan punya nama asli Jeff Isbell. Saking cintanya Ferdy punya macam-macam syal seperti yang biasa dipakai Izzy. Kadang-kadang dia juga muncul dengan kemeja putih lengan panjang dan jeans hitam ketat. Ferdylah yang paling kecewa ketika akhirnya Izzy memutuskan keluar dari GN’R dan mendirikan Izzy and the Ju Ju Hounds. Satu album, lalu selesai.

Tapi Ferdy tidak sekadar GN’R. Saya ingat suatu ketika main ke rumahnya, Ferdy sedang khusyuk mendengarkan musik yang dimainkan orang-orang tua. Orang-orang tua itu bikin saya takjub. Pemimpin gang orang tua itu, Pak Knopfler, lengkapnya Mark Knopfler, bikin intro keren buat satu lagu yang diciptakannya bersama Sting. Money for Nothing. Sejak hari itu kita sibuk berburu Dire Straits, nama band orang-orang tua itu. Ada Sultans of Swing, Your Latest Trick, sampai Tunnel of Love yang benar-benar cantik. Tapi saya tidak pernah menang. Setidaknya kalah satu poin karena akhirnya Ferdy sudah menemukan dobel album Alchemy Dire Straits.
Dari Dire Straits, Ferdy mengenalkan Sting, The Police, hingga The Rippingstons. Dia pernah bilang, dia susah tidur kalau tidak memutar album Rippingstons. Sayang saya tidak terlalu tertarik untuk mengoleksi. Tapi belakangan, setelah SMA saya kembali dikenalkan dengan Rippingstons oleh seorang sepupu yang terlalu cinta dengan Spyro Gyra, GRP, dan musik-musik sejenis. Saat itu saya teringat Ferdy. Kami saat itu harusnya sering bertemu karena sama-sama di Bandung. Tapi hingga akhirnya saya terdampar di Jakarta, Ferdy masih belum ditemukan.
Ada yang pernah kenal Ferdy, Tri Damayanto, dulu anak SMA 5?
Kalau iya, tolong bilang Ferdy, South Beach Mambo dan Caribbean Breeze Rippingstons memang oke.
Tapi 14 Years Izzy masih jauh... jauh lebih galak.
Ingat musik semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama, membuat saya teringat pula kepada seorang teman satu sekolah. Ferdy namanya. Kenal secara tidak sengaja, Ferdy akhirnya jadi teman akrab karena ternyata dia juga mengoleksi kaset Guns N’ Roses. Ferdy jatuh cinta dengan Izzy Stradlin ketika anak-anak lain seusia kami mengidolakan Axl yang beringas dan Slash yang cool. Suatu hari dia cerita Izzy itu teman dekat Axl. Sama-sama dari Lafayette, Indiana, dan punya nama asli Jeff Isbell. Saking cintanya Ferdy punya macam-macam syal seperti yang biasa dipakai Izzy. Kadang-kadang dia juga muncul dengan kemeja putih lengan panjang dan jeans hitam ketat. Ferdylah yang paling kecewa ketika akhirnya Izzy memutuskan keluar dari GN’R dan mendirikan Izzy and the Ju Ju Hounds. Satu album, lalu selesai.
Tapi Ferdy tidak sekadar GN’R. Saya ingat suatu ketika main ke rumahnya, Ferdy sedang khusyuk mendengarkan musik yang dimainkan orang-orang tua. Orang-orang tua itu bikin saya takjub. Pemimpin gang orang tua itu, Pak Knopfler, lengkapnya Mark Knopfler, bikin intro keren buat satu lagu yang diciptakannya bersama Sting. Money for Nothing. Sejak hari itu kita sibuk berburu Dire Straits, nama band orang-orang tua itu. Ada Sultans of Swing, Your Latest Trick, sampai Tunnel of Love yang benar-benar cantik. Tapi saya tidak pernah menang. Setidaknya kalah satu poin karena akhirnya Ferdy sudah menemukan dobel album Alchemy Dire Straits.
Dari Dire Straits, Ferdy mengenalkan Sting, The Police, hingga The Rippingstons. Dia pernah bilang, dia susah tidur kalau tidak memutar album Rippingstons. Sayang saya tidak terlalu tertarik untuk mengoleksi. Tapi belakangan, setelah SMA saya kembali dikenalkan dengan Rippingstons oleh seorang sepupu yang terlalu cinta dengan Spyro Gyra, GRP, dan musik-musik sejenis. Saat itu saya teringat Ferdy. Kami saat itu harusnya sering bertemu karena sama-sama di Bandung. Tapi hingga akhirnya saya terdampar di Jakarta, Ferdy masih belum ditemukan. Ada yang pernah kenal Ferdy, Tri Damayanto, dulu anak SMA 5?
Kalau iya, tolong bilang Ferdy, South Beach Mambo dan Caribbean Breeze Rippingstons memang oke.
Tapi 14 Years Izzy masih jauh... jauh lebih galak.
Musik Pas SMP
Kalau dipikir-pikir, gila ya dulu itu. Mo dengerin lagu aja susah bener. Beli kaset mahal benerrrr. Bayangin aja satu kaset Rp 7 ribu. Waktu itu mah mahal jek. Bahkan... ni ceritanya demi melengkapi koleksi Guns N’ Roses... gw harus mengorbankan Rp 5 ribu untuk album soundtrack Terminator II yang isinya buset dah cuma dua lagu! Sisi A Civil War dan sisi B You Could Be Mine. Sekarang tauk tu kaset di mana. Padahal duit lima rebu perak itu sama dengan jajan dua hari di kantin. Bisa tiga kali malah kalo gak beli es cincau dua gelas tiap hari.
Ada sih cara yang lebih murah. Rada-rada mirip ama tema dekade ini, pembajakan! Pinjam dan gandakan. Cuman teteup aja mahal. Soalnya kan harus punya tape double deck yang bisa memutar dan merekam sekaligus. Pada saat itu yang paling populer adalah kompo merek lokal yakni Polytron tipenya gak tau. Pokoknya kalo lo beli antena parabola dapat kompo itu gratis. Kalo gak salah parabolanya pun minimal yang di atas 20 ft. Nah daripada mesti beli parabola yang jauh-jauh lebih mahal untuk dapetin tu kompo gratis, akhirnya gw memohon kedua org tua tercinta biar dibeliin tape dengan merek yang sama tapi rada gedean. Gak inget juga tipenya, tapi tape itu sudah menemani gw selama lebih dari 10 tahun. Baru aja gw warisin ke orang pas pindah kos kemaren hehehe.
Kembali ke masalah bajak-membajak tempo dulu. Nah sekarang sudah punya tape. Trus udah? Beluuuum, kan harus punya kaset kosong buat ngerekam. Untuk sebuah kaset kosong sepanjang 60 menit dibutuhkan pengorbanan sebesar Rp 3.500. Nah yang pengen rada panjangan bisa memilih kaset berdurasi 90 menit yang harganya Rp 5 ribu. Merek favorit gw adalah Maxwell. Gak ada penjelasan ilmiah, cuman temen-temen gw banyakan pake itu.
Sebenernya sih ada cara yang lebih murah. Murah banget. Cuman mental lo mesti baja murni. Kalo beraninya masih setengah-setengah mending jangan deh. Jadi gini caranya. Tapi harus janji dulu... jangan bilang siapa-siapa. Gini, malem-malem gitu kalo semuanya udah pada tidur lo pergi deh ke rak kaset. Naa trus secepat kilat lo sikat deh koleksi kaset bokap lo. Satu-satu aja dulu. Ilmu ini juga sebenarnya lebih baik dipakai pas lo dalam keadaan kefefet. Darurat gitu. Cuman sebelumnya lo mesti riset dulu. Kaset itu sering didengerin ama doi gak. Soalnya kalo salah sikat.... wah mending buru-buru urus paspor deh hehehe.

Kembali ke gaya misionaris... tak lama setelah demam kaset kosong melanda mulailah bermunculan teknologi baru di dunia kaset kosong. Istilahnya sih rada-rada gahar. Metal head....anjriiiiit. Hehehe secara yang direkam Metallica, Iron Maiden, Skid Row, dan keluarganya, tentu... saya pilih Metal head. Metal head kaset kosong impianku! Yeaaaah! Rada mahal sih, 60 menitnya di atas Rp 5 ribu. Tapi ya secara tadi itu, ya diusahakanlah. Namanya juga anak metal. Meskipun sampe sekarang gw tetep gak ngerti bedanya. Apakah lebi bagus atau lebi awet? Hanya si penjual yang tahu. Bisa aja tu engkoh toko kaset nempelin macem-macem.
Sebenarnya apa sih yang menarik dari aksi bajak-membajak dengan tangan kosong... halah... kaset kosong? Wah ini pertanyaan bagus. Pertama, kita gak perlu beli album yang gak semua lagunya kita suka, betuuuuuul? Kedua, untuk bikin cadangan kalau-kalau si kaset asli yang koleksian itu ngadat. Atau, kan paling nyebelin tuh kalo tombol playnya mulai suka jepret sendiri pas diputer, betuuuuuul? Kan mahal kalo harus beli lagi. Hemat Rp 2 ribu perak itu lumayan lho. Kalo main Street Fighter, Street Fighter... ada yang inget? Itu lho video game sewa itu. Ding dong? Seratus perak sekali maen? Haloooo? Naaa itu deh. Wah dengan seceng aja gw bisa maen 2 jam hehehe. Oiya alasan ketiga tentunya adalah kita dengan mudah bisa ngerekam lagu-lagu yang diputar di radio, betuuuuuul? Jangan betul betul dulu. Denger dulu ni ceritanya.
Satu masalah yang acap timbul kala merekam lagu di radio adalah, kita tidak tahu persis kapan harus mencet tombol record. Soalnya para penyiar radio itu gak pernah kasi aba-aba satu-dua-tiga gitu. Suka-suka dia aja. Dan ngehenya lagi.... ni ini yang paling ngehe neh... catet... di bagian akhir lagu itu gw sering banget kecolongan suara si penyiar. Napsuan amat sih orang-orang radio itu. Tunggu lagunya kelar kek baru ngomong. Kan gak asik banget kalo pas gubrak-gubrak drum gitu tiba-tiba ada suara tanpa dosa, “Yaaaa lepas 20 menit dari pukul 5 sore... Dyers Eve dari Metallica berlalu dari...” Ngehe. Mengurangi perasaan khidmat pas dengerin, tau gak sih. Untung gw gak punya kenalan orang radio, kalo ada kan gak enak. Ehm, gak ada kan?
Nah karena gw sudah punya tape double deck dan punya koleksi kaset mayan banyak, maka berdatanganlah rekan-rekan sesekolahan dan para tetangga yang budiman untuk turut meramaikan jagat rekam-merekam. Gw pun tak kalah semangatnya. Ada satu kaset yang isinya lagu keras semua. Ada yang khusus slow rock. Ada pula yang love song. Nah genre yang disebut terakhir itu biasanya diumpetin. Agak gengsi juga to kalo ketauan doyan denger Shoulder to Cry On-nya Tommy Page atau siapa itu namanya, aduuuuh lupa, pokoknya yang lagunya itu lho... Beautiful Girl hehehe. Biutifel geeeeel werever yuaaaaaaaar....Wah jangan sampe ketauan deh. Kan dah dibilang.... anak metal hehehe. Yang pasti sih gw gak denger NKOTB. Sumpah mati enggak. Ih amit-amit (ketok2 boneka kayu di atas monitor tiga kali). Apalagi yang lagunya tonite...jeng jeng jeng tonite... halah. Ada knight bersaudara joget, jordan ama jonathan aduuuuuuuuuu ampuuuuun! Iiiiiiiih.... sialan jadi kepikiran... emosi neh...huh tenang.... tarik napas.... fuuuuuh.... anjriiiiit si danny wahlberg ngangkat kursi dari kolong selangkangannya aaaaaaaaah....
Uda deh. Berikut 15 lagu slow rock koleksi kesenian masa SMP gw.. hah... hah...hah.... ambil napaaaaas.... iiiih lihat... lihat deh...si jonathan senyum manis gitu pas ending klipnya. Tidaaaaaaaaaaaaaaaak!
Everything About You, Ugly Kid Joe. Wah pada ke mana ya orang-orang ini?
Tears of the Dragon, Bruce Dickinson. Pak Bruce ini mantan vokalisnya Iron Maiden (eh dia juga mantan vokalis Samson lhooo). Dulu sih yg gw denger adalah versi biasa. Itu pun ngerekam dari radio. Setelah berkali-kali dinodai suara penyiar, akhirnya gw punya Tears of the Dragon penyiar free. Btw versi ini kayaknya lebih bagus. Silakan dicek sendiri.
I Love You, Saigon Kick. Ini juga gak kedengeran kabarnya.
More Than Word Can Say, Alias, resenya sekarang ada boyband yang nyanyiin lagu ini.
Mmm Mmm Mmm, Crash Test Dummies. Suaranya ngebas banget yak. Sayang gak perna kedengeran lagi.
No Rain, Blind Melon. Kasian Mas Shannon. Padahal gw suka suaranya pas nemenin Axl nyanyi Don’t Cry.
Cryin’, Aerosmith. Ahhh harmonika. Alasan kenapa gw beli harmonika hehehe.
Terlalu Manis (versi suka-suka), Slank. Ah karya anak negeri. Keren euy.
Kalau dipikir-pikir, gila ya dulu itu. Mo dengerin lagu aja susah bener. Beli kaset mahal benerrrr. Bayangin aja satu kaset Rp 7 ribu. Waktu itu mah mahal jek. Bahkan... ni ceritanya demi melengkapi koleksi Guns N’ Roses... gw harus mengorbankan Rp 5 ribu untuk album soundtrack Terminator II yang isinya buset dah cuma dua lagu! Sisi A Civil War dan sisi B You Could Be Mine. Sekarang tauk tu kaset di mana. Padahal duit lima rebu perak itu sama dengan jajan dua hari di kantin. Bisa tiga kali malah kalo gak beli es cincau dua gelas tiap hari.Ada sih cara yang lebih murah. Rada-rada mirip ama tema dekade ini, pembajakan! Pinjam dan gandakan. Cuman teteup aja mahal. Soalnya kan harus punya tape double deck yang bisa memutar dan merekam sekaligus. Pada saat itu yang paling populer adalah kompo merek lokal yakni Polytron tipenya gak tau. Pokoknya kalo lo beli antena parabola dapat kompo itu gratis. Kalo gak salah parabolanya pun minimal yang di atas 20 ft. Nah daripada mesti beli parabola yang jauh-jauh lebih mahal untuk dapetin tu kompo gratis, akhirnya gw memohon kedua org tua tercinta biar dibeliin tape dengan merek yang sama tapi rada gedean. Gak inget juga tipenya, tapi tape itu sudah menemani gw selama lebih dari 10 tahun. Baru aja gw warisin ke orang pas pindah kos kemaren hehehe.
Kembali ke masalah bajak-membajak tempo dulu. Nah sekarang sudah punya tape. Trus udah? Beluuuum, kan harus punya kaset kosong buat ngerekam. Untuk sebuah kaset kosong sepanjang 60 menit dibutuhkan pengorbanan sebesar Rp 3.500. Nah yang pengen rada panjangan bisa memilih kaset berdurasi 90 menit yang harganya Rp 5 ribu. Merek favorit gw adalah Maxwell. Gak ada penjelasan ilmiah, cuman temen-temen gw banyakan pake itu.Sebenernya sih ada cara yang lebih murah. Murah banget. Cuman mental lo mesti baja murni. Kalo beraninya masih setengah-setengah mending jangan deh. Jadi gini caranya. Tapi harus janji dulu... jangan bilang siapa-siapa. Gini, malem-malem gitu kalo semuanya udah pada tidur lo pergi deh ke rak kaset. Naa trus secepat kilat lo sikat deh koleksi kaset bokap lo. Satu-satu aja dulu. Ilmu ini juga sebenarnya lebih baik dipakai pas lo dalam keadaan kefefet. Darurat gitu. Cuman sebelumnya lo mesti riset dulu. Kaset itu sering didengerin ama doi gak. Soalnya kalo salah sikat.... wah mending buru-buru urus paspor deh hehehe.

Kembali ke gaya misionaris... tak lama setelah demam kaset kosong melanda mulailah bermunculan teknologi baru di dunia kaset kosong. Istilahnya sih rada-rada gahar. Metal head....anjriiiiit. Hehehe secara yang direkam Metallica, Iron Maiden, Skid Row, dan keluarganya, tentu... saya pilih Metal head. Metal head kaset kosong impianku! Yeaaaah! Rada mahal sih, 60 menitnya di atas Rp 5 ribu. Tapi ya secara tadi itu, ya diusahakanlah. Namanya juga anak metal. Meskipun sampe sekarang gw tetep gak ngerti bedanya. Apakah lebi bagus atau lebi awet? Hanya si penjual yang tahu. Bisa aja tu engkoh toko kaset nempelin macem-macem.
Sebenarnya apa sih yang menarik dari aksi bajak-membajak dengan tangan kosong... halah... kaset kosong? Wah ini pertanyaan bagus. Pertama, kita gak perlu beli album yang gak semua lagunya kita suka, betuuuuuul? Kedua, untuk bikin cadangan kalau-kalau si kaset asli yang koleksian itu ngadat. Atau, kan paling nyebelin tuh kalo tombol playnya mulai suka jepret sendiri pas diputer, betuuuuuul? Kan mahal kalo harus beli lagi. Hemat Rp 2 ribu perak itu lumayan lho. Kalo main Street Fighter, Street Fighter... ada yang inget? Itu lho video game sewa itu. Ding dong? Seratus perak sekali maen? Haloooo? Naaa itu deh. Wah dengan seceng aja gw bisa maen 2 jam hehehe. Oiya alasan ketiga tentunya adalah kita dengan mudah bisa ngerekam lagu-lagu yang diputar di radio, betuuuuuul? Jangan betul betul dulu. Denger dulu ni ceritanya.
Satu masalah yang acap timbul kala merekam lagu di radio adalah, kita tidak tahu persis kapan harus mencet tombol record. Soalnya para penyiar radio itu gak pernah kasi aba-aba satu-dua-tiga gitu. Suka-suka dia aja. Dan ngehenya lagi.... ni ini yang paling ngehe neh... catet... di bagian akhir lagu itu gw sering banget kecolongan suara si penyiar. Napsuan amat sih orang-orang radio itu. Tunggu lagunya kelar kek baru ngomong. Kan gak asik banget kalo pas gubrak-gubrak drum gitu tiba-tiba ada suara tanpa dosa, “Yaaaa lepas 20 menit dari pukul 5 sore... Dyers Eve dari Metallica berlalu dari...” Ngehe. Mengurangi perasaan khidmat pas dengerin, tau gak sih. Untung gw gak punya kenalan orang radio, kalo ada kan gak enak. Ehm, gak ada kan?
Nah karena gw sudah punya tape double deck dan punya koleksi kaset mayan banyak, maka berdatanganlah rekan-rekan sesekolahan dan para tetangga yang budiman untuk turut meramaikan jagat rekam-merekam. Gw pun tak kalah semangatnya. Ada satu kaset yang isinya lagu keras semua. Ada yang khusus slow rock. Ada pula yang love song. Nah genre yang disebut terakhir itu biasanya diumpetin. Agak gengsi juga to kalo ketauan doyan denger Shoulder to Cry On-nya Tommy Page atau siapa itu namanya, aduuuuh lupa, pokoknya yang lagunya itu lho... Beautiful Girl hehehe. Biutifel geeeeel werever yuaaaaaaaar....Wah jangan sampe ketauan deh. Kan dah dibilang.... anak metal hehehe. Yang pasti sih gw gak denger NKOTB. Sumpah mati enggak. Ih amit-amit (ketok2 boneka kayu di atas monitor tiga kali). Apalagi yang lagunya tonite...jeng jeng jeng tonite... halah. Ada knight bersaudara joget, jordan ama jonathan aduuuuuuuuuu ampuuuuun! Iiiiiiiih.... sialan jadi kepikiran... emosi neh...huh tenang.... tarik napas.... fuuuuuh.... anjriiiiit si danny wahlberg ngangkat kursi dari kolong selangkangannya aaaaaaaaah....
Uda deh. Berikut 15 lagu slow rock koleksi kesenian masa SMP gw.. hah... hah...hah.... ambil napaaaaas.... iiiih lihat... lihat deh...si jonathan senyum manis gitu pas ending klipnya. Tidaaaaaaaaaaaaaaaak!
One, Metallica. Wah Mas Hammett emang bener-bener galak. Gw kenal album ini dari anak kelas tiga yang tiba-tiba mamerin ...And Justice For All pas latihan bulu tangkis. Namanya Teddy. Ih gw masi inget. Hebat hehehe.
Patience, Guns N’ Roses. Lagu ini ada di dalam satu-satunya kaset di mobil temen gw. Jadi ke mana-mana pasti yang kita puter cuma kaset ini. Sisi beeeeee terus. Soalnya lagunya gak bikin pusing, kata Yan si empunya mobil. Ya udah daripada diturunin di jalan... ya manut aja.
18 n Life, lagu Skid Row yang jadi andelan pas begadang di sekolah menjelang pensi. Ah ada I Remember You pula.... ahhh. Masa-masa itu.... mengingatkanku padanya.... Pak Martono si guru Fisika
Everything About You, Ugly Kid Joe. Wah pada ke mana ya orang-orang ini?
Tears of the Dragon, Bruce Dickinson. Pak Bruce ini mantan vokalisnya Iron Maiden (eh dia juga mantan vokalis Samson lhooo). Dulu sih yg gw denger adalah versi biasa. Itu pun ngerekam dari radio. Setelah berkali-kali dinodai suara penyiar, akhirnya gw punya Tears of the Dragon penyiar free. Btw versi ini kayaknya lebih bagus. Silakan dicek sendiri.I Love You, Saigon Kick. Ini juga gak kedengeran kabarnya.
More Than Word Can Say, Alias, resenya sekarang ada boyband yang nyanyiin lagu ini.
Mmm Mmm Mmm, Crash Test Dummies. Suaranya ngebas banget yak. Sayang gak perna kedengeran lagi.
No Rain, Blind Melon. Kasian Mas Shannon. Padahal gw suka suaranya pas nemenin Axl nyanyi Don’t Cry.
Cryin’, Aerosmith. Ahhh harmonika. Alasan kenapa gw beli harmonika hehehe.
Terlalu Manis (versi suka-suka), Slank. Ah karya anak negeri. Keren euy.
album minggu ini
kita mulai dengan cover version beatles blackbird yang dibawakan dengan apik oleh csn (?). dari blackbird kita menuju ke tangga lagu selanjutnya yang ditempati oleh mas chuck.. bukan cak noris, ini cak yg lain lagi, cak beri you never can tell. kalo ada yang inget lagu ini ada di pulp fiction pas mas john ajojing ama mbak uma... serrrrr... lanjut! malam kian larut ketika kita tiba pada tembang wonderful nite milik fatboy slim.
pada segmen kedua ini kita jumpai pelantun blues keren dengan petikan gitar beken... pak keb mo, dengan am i wrong. dari sini masih dengan melodi liris... the ventures dgn lagu surf rider yg aslinya dibawakan the lively ones. dan sebagai penutup jumpa kita minggu ini selanjutkan kami tampilnya.... grup musik asal irlandia... the legend... u2... dengan lagu penolakan terhadap serangan migren... sodara-sodara...vertigo!
itu saja? tentu tidak. biar tambah lengkap... berikut ajeb ajeb dari pedigree... spitfire...
sampai jumpa, jayalah musik indonesaaaaah
kita mulai dengan cover version beatles blackbird yang dibawakan dengan apik oleh csn (?). dari blackbird kita menuju ke tangga lagu selanjutnya yang ditempati oleh mas chuck.. bukan cak noris, ini cak yg lain lagi, cak beri you never can tell. kalo ada yang inget lagu ini ada di pulp fiction pas mas john ajojing ama mbak uma... serrrrr... lanjut! malam kian larut ketika kita tiba pada tembang wonderful nite milik fatboy slim.
pada segmen kedua ini kita jumpai pelantun blues keren dengan petikan gitar beken... pak keb mo, dengan am i wrong. dari sini masih dengan melodi liris... the ventures dgn lagu surf rider yg aslinya dibawakan the lively ones. dan sebagai penutup jumpa kita minggu ini selanjutkan kami tampilnya.... grup musik asal irlandia... the legend... u2... dengan lagu penolakan terhadap serangan migren... sodara-sodara...vertigo!
itu saja? tentu tidak. biar tambah lengkap... berikut ajeb ajeb dari pedigree... spitfire...
sampai jumpa, jayalah musik indonesaaaaah
Tips Sukses Membuat Disertasi (5 M)
(disarikan dari berbagai sumber)
(cetakan kedua)
Membuang semua pikiran-pikiran nakal, fantasi-fantasi liar, binal, khayalan-khayalan berlapis nafsu, bayangan-bayangan tabu, hhhhh!
Menimbun album kenangan, buku harian, foto berdua kala menikmati sunset di bali, di bawah buku, referensi, dan bahan bacaan lainnya.
Menguras seluruh pikiran dan tenaga demi disertasi tercinta sampai tak kenal waktu; siang-malam, malam-siang.
Minum. Jangan siksa ginjal Anda dengan kopi. Mulailah minum air putih. 8 liter sehari (pesan ini disampaikan oleh Gerakan Gara-Gara Lupa Ginjal—Gerakan Gagal Ginjal).
Mandi dong choy. Ingat, berilmu itu tidak berarti berbau. Segera buka jendela lebar-lebar kalau sudah pagi.
Masih butuh motivasi? Silaken datangi link-link ini: mau dong diklik, akyu juga bica kok diklik hhh, eh saya aja yg diklik...klik, monggo maaaas dicoba dulu ndak bayar, mas..mas...klik ini mas...mas...woi, adult free movie xxx download, klik akuuuuh sayang, sama kayak sebelah, sori gak sedia kayak gituan, mbaaaaak klik aku mbaaaak
tengkyu om jim buat traktirannya. margarita gratis emang lebi dahsyat ketimbang yg bayar hehehe hik...
(disarikan dari berbagai sumber)
(cetakan kedua)
Membuang semua pikiran-pikiran nakal, fantasi-fantasi liar, binal, khayalan-khayalan berlapis nafsu, bayangan-bayangan tabu, hhhhh!
Menimbun album kenangan, buku harian, foto berdua kala menikmati sunset di bali, di bawah buku, referensi, dan bahan bacaan lainnya.
Menguras seluruh pikiran dan tenaga demi disertasi tercinta sampai tak kenal waktu; siang-malam, malam-siang.
Minum. Jangan siksa ginjal Anda dengan kopi. Mulailah minum air putih. 8 liter sehari (pesan ini disampaikan oleh Gerakan Gara-Gara Lupa Ginjal—Gerakan Gagal Ginjal).
Mandi dong choy. Ingat, berilmu itu tidak berarti berbau. Segera buka jendela lebar-lebar kalau sudah pagi.
Masih butuh motivasi? Silaken datangi link-link ini: mau dong diklik, akyu juga bica kok diklik hhh, eh saya aja yg diklik...klik, monggo maaaas dicoba dulu ndak bayar, mas..mas...klik ini mas...mas...woi, adult free movie xxx download, klik akuuuuh sayang, sama kayak sebelah, sori gak sedia kayak gituan, mbaaaaak klik aku mbaaaak
tengkyu om jim buat traktirannya. margarita gratis emang lebi dahsyat ketimbang yg bayar hehehe hik...
gunung instan foto instan oldig instan asal-asalan
asal hati senang

buat nambah2 koleksi nobody but me
asal hati senang

buat nambah2 koleksi nobody but me
Suziiiiiiiiiiiiiie!
Sisi L
Suzie sudah menunggu lama. 10 menit, 20 menit, 45 menit dia masih menunggu. Sekarang dia ganti memangku kaki kiri. Kopinya sudah habis. Pelayan datang karena lambaian. Pesanannya sama seperti yang di atas meja.
Tempat itu ramai, belum lagi genap dua tahun berdiri tapi sudah begitu penuh oleh manusia. Tua-muda, remaja, kanak-kanak. Kebanyakan remaja. Salah satu tempat tujuan wisata malam minggu di ibu kota. Ada pertunjukan musik, tempat makan, bioskop, dan kafe. Di malam-malam tertentu ada peragaan busana di tengah plaza. Tapi hanya diisi oleh para perancang busana kelas menengah. Tidak ada peragaan busana renang tentunya. Sayang, terlalu banyak anak-anak.
Ah, jam sepuluh lebih empat puluh lima menit, Suzie masih di situ. Tidak terasa 1 jam lebih 20 menit berlalu. Kopinya yang baru sudah habis separuh. Seorang lelaki yang dari tadi duduk tak jauh dari situ menghampiri. Bertanya apakah ia boleh menemani Suzie menunggu. Pria itu lantas duduk persis di sebelah Suzie yang sudah ganti memangku kaki kanan.
Lagi nunggu siapa?
Temen.
Kayaknya udah lama?
Iya, tapi sebentar lagi nyampe.
Sudah di-SMS?
Udah tadi, katanya sih udah naik tol.
Ooo.
Sama siapa, Mas?
Sama temen-temen
Ooo itu teman-temannya?
Iya.
Haiii... Suzie melambai. Yang pake baju merah lucu.
Hmm... dia lagi berduka.
Berduka kenapa?
Kemaren sore dia putus.
Ooo.... kirain....
Kamu gak lagi berduka kan? Pake baju merah juga.
Hahaha enggak. Saya udah lama pake baju merah hahaha.
Hahaha bagus.
Kok bagus?
Berarti saya gak perlu takut dipelototin sama yang kamu tunggu.
Hahaha, enggak kok. Cuman temen.
Suzie baru 22. Dia mengaku mahasiswa di perguruan tinggi swasta. Belajar humas katanya. Cantik. 170 cm, rambut hitam sepundak. Malam ini dia mengenakan halter merah, jeans, dan hak tinggi perak. Di lehernya ada liontin berinisial S. Logo Superman.
Boleh minta rokoknya, gak, Mas?
Silakan silakan.
Hmm saya sudah lama berhenti merokok.
Kenapa?
Mau berhenti aja.
Kamu sering jadi model ya?
Kok nanya gitu?
Iya, kelihatannya gitu. Ya, kan?
Gak sering, bantuin temen aja.
Ooo. Suka difoto?
Mas, wartawan ya? Nanya-nanya mulu.
Kalo di sini ada congklak, gw mau maen congklak ama lo.
Hahaha. Iya dee
Suzie memang menawan. Tawanya khas. Tawa itu bakal menarik hidungnya ke atas dan membuat dagunya berkerut lalu menunjukkan barisan giginya. Tapi tawanya tidak berlangsung lama. Suzie tiba-tiba kesal setelah membaca pesan di telepon genggamnya. Pelayan datang setelah lambaian tangannya.
Eh kenapa?
Bete gw.
Gak jadi dateng ya?
Gw dibohongin.
Terus mo ke mana?
Ke mana aja. Yuk?
Ke mana?
Ya, ke mana aja.
Check in, ya?
Rese lo.
Lha terus mo ke mana?
Ke mana aja. Bawa mobil kan?
Terus temen gw?
Suruh tunggu aja.
Hah? Suruh tunggu gimana?
Bilang aja check in sebentar. Hehehe
Lo yang bilang, ya.
Suzie menghampiri meja tak jauh dari sana. Di meja itu ada lima anak muda yang dari tadi memperhatikan mereka. Suzie bicara sebentar dan ia kembali kepada lelaki yang masih berdiri di kafe tadi. Ia menarik tangan lelaki itu.
Teleponnya berdering...
Ya?
...
Aku dah jalan.
...
Sama temen.
...
Sudah ya, aku matiin.
...
Teleponnya kembali berdering...
Lampu merah belok kiri.
Suzie bilang tempat ini dekat rumahnya. Tempat makan itu cukup luas untuk kelas warung tenda di emperan jalan. Parkirannya pun luas. Kebanyakan yang parkir di situ lupa mematikan mesin. Mungkin juga sengaja. Entahlah. Hampir 20 tahun tempat makan itu sudah ada di situ. Terkenal di seantero ibu kota. Sarah Azhari pun pernah terlihat makan roti bakar dan minum susu di tempat itu.
Kayaknya gw pernah liat lo.
Lho, “Mas”-nya ke mana?
Hehehe lo bilang tadi umur kita gak jauh. Gimana sih? Semua cowok itu emang plin-plan.
Enggak kok, buktinya sampai sekarang gw tetep pengen check in.
Dasar.
Emang cowok lo tadi kenapa?
Hah?
Lo bilang tadi semua cowok plin-plan. Biasanya cewek selalu bilang gitu kalo baru ada masalah ama cowoknya. Semua cowok brengsek. Semua cowok gak bisa dipercaya. Ya, kan?
Itu temen. Gak percayaan amat.
OK de. Emang semua cewek jago pura-pura.
Hehehe. Iya deh kayaknya gw pernah liat lo.
Iya deh kayaknya.
Tuuu kan. Di mana ya?
Di bola kristal pas lo ke peramal di Mampang minggu kemarin. Inilah lelaki yang akan membuat hidupmu yang sia-sia itu menjadi berarti, kata peramal. Ya, kan?
Mangsud loooh?
Doyan Superman, ya?
Itu kan namakyu.
Superman? Lha katanya Uci.
Kan Suzie aslinya.
Ah Suziiiiiie namanya.
Telepon genggam Suzie kembali berdering. Sebuah SMS.
Suzie mengisap rokoknya dalam-dalam. Sekarang sudah pukul 3 pagi. Ia membalut tubuhnya dalam selimut. Lelaki itu beranjak dari tempat tidur.
Gw ambil kamera ya?
Buat apa?
Gw mo bersihin lensa sama ngitungin baterainya masih cukup pa enggak. Ya buat motretlah.
Rese lo, gak usah. Buat apa coba?
Gw pengin motret lo lagi gitu. Kan asyik tuh lo bisa.... Tenaaaang, ntar gw...
OK tapi ...
Sip, jangan ke mana-mana.
Tempat itu masih ramai. Seperti tiga minggu lalu. Bedanya, minggu ini “Suzie” tidak sendiri. Ada seorang pria bersamanya. Dari jauh seorang lelaki melambai. “Suzie” tertawa memamerkan giginya.
Kenalin, Mas, ini Syd.
Sisi P
Lelaki itu melirik sekali lagi. Ini adalah kali kesekian ia melirik ke arah gadis itu. Gadis itu duduk sendiri di pelataran kafe. 10 menit, 20 menit, 45 menit mata lelaki itu masih mengintai. Dan gadis itu masih sendiri.
Gadis itu melambaikan tangannya dan pelayan datang menghampiri. Another latte. Matanya sekelebat melirik ke seberang ruangan. Lelaki itu masih di situ bersama lima rekannya. Mereka hanya satu dari sekian banyak kumpulan orang di tempat itu. Dari begitu banyak tempat yang ada, kafe adalah tempat berkumpul yang paling diminati. Meskipun terbilang baru, tempat ini cukup komplet menyediakan sarana hiburan. Selain discotheque, ada resto, bar, arena bermain, dan toko buku.
Ah, jam sebelas kurang seperempat. Para lelaki tadi masih di situ. Dan gadis itu mulai gelisah. Ia memperbaiki cara duduknya. Gadis itu tampak manis bersama cowl-neck halter merah yang dipadu dengan blue jeans. Kakinya yang jenjang dibalut 4 inch wedge heel berwarna perak.
Lelaki itu beranjak dari tempatnya. Ia menghampiri gadis itu. Gadis itu seakan-akan kaget ketika lelaki itu menyapanya, tapi ia mempersilakan lelaki itu duduk. Gadis itu kembali memperbaiki cara duduknya. Sekarang ia ganti memangku Dollhouse sebelah kanan.
Lagi nunggu siapa?
Temen.
Kayaknya udah lama?
Iya, tapi sebentar lagi nyampe.
Sudah di-SMS?
Udah tadi, katanya sih udah naik tol.
Ooo.
Sama siapa, Mas?
Sama temen-temen
Ooo itu teman-temannya?
Iya.
Haiii... Gadis itu tiba-tiba melambai. Yang pake baju merah lucu.
Hmm... dia lagi berduka.
Berduka kenapa?
Kemaren sore dia putus.
Ooo.... kirain....
Kamu gak lagi berduka kan? Pake baju merah juga.
Hahaha enggak. Saya udah lama pake baju merah hahaha.
Hahaha bagus.
Kok bagus?
Berarti saya gak perlu takut dipelototin sama yang kamu tunggu.
Hahaha, enggak kok. Cuman temen.
Lelaki itu sepertinya belum berkeluarga. Belum ada cincin yang melingkar di jemari. Dia bekerja di sebuah perusahaan milik keluarganya. Dia tampan dan punya tatapan mata yang tajam. Si gadis tampak terpesona. Gerak-geriknya menunjukkan ia suka lelaki itu. Tapi ia sedang menunggu seseorang. Dan seseorang itu mungkin tidak akan datang lagi malam ini. Kali kedua dalam minggu yang sama setelah pertengkaran hebat. Lagi-lagi dia ingkar janji. Sebuah kesalahan besar karena dia tak akan lagi memaafkannya. Tidak kali ini. Dia nyaris menemukan penggantinya. Lelaki tampan yang ada di depannya.
Boleh minta rokoknya, gak, Mas?
Silakan silakan.
Hmm saya sudah lama berhenti merokok.
Kenapa?
Mau berhenti aja.
Kamu sering jadi model ya?
Kok nanya gitu?
Iya, kelihatannya gitu. Ya, kan?
Gak sering, bantuin temen aja.
Ooo. Suka difoto?
Mas, wartawan ya? Nanya-nanya mulu.
Kalo di sini ada congklak, gw mau maen congklak ama lo.
Hahaha. Iya dee
Telepon genggam gadis itu berdering pendek. Sebuah pesan masuk. Pesan dari seseorang yang ia tunggu malam itu. Yup, dia tidak datang lagi. Sebuah bukti, laki-laki itu tidak ingin lagi bersamanya. Gadis itu melambai meminta bill.
Eh kenapa?
Bete gw.
Gak jadi dateng ya?
Gw dibohongin.
Terus mo ke mana?
Ke mana aja. Yuk?
Ke mana?
Ya, ke mana aja.
Check in, ya?
Rese lo.
Lha terus mo ke mana?
Ke mana aja. Bawa mobil kan?
Terus temen gw?
Suruh tunggu aja.
Hah? Suruh tunggu gimana?
Bilang aja check in sebentar. Hehehe
Lo yang bilang, ya.
Si gadis langsung berdiri dan menghampiri teman-teman lelaki itu dan mengatakan bahwa ia tidak akan segera kembali. Teman-teman lelaki itu mempersilakan sambil tertawa-tawa. Gadis itu menarik tangan lelaki tadi.
Teleponnya berdering...
Ya?
...
Aku dah jalan.
...
Sama temen.
...
Sudah ya, aku matiin.
...
Teleponnya kembali berdering...
Gadis itu patah hati. Ia ingin membawa lelaki itu ke rumah kosnya tak jauh dari situ. Tinggal belok kanan di ujung jalan. Dia ingin membuat kekasihnya sakit hati. Dia ingin tidur bersama lelaki yang baru dikenalnya. Yang bahkan tidak diketahui asal-usulnya. Apakah ia benar-benar belum berkeluarga. Apakah ia juga belum punya kekasih. Apakah ia.... Gadis itu menutup rapat-rapat pikirannya. Ia telanjur patah hati.
Sebentar ia ingat liontin yang menggantung di lehernya. Hadiah dari kekasih. Liontin dengan inisial nama. Sepasang yang lain, yang berinisial nama si gadis, dikenakan sang kekasih. Hadiah untuk peringatan 3 tahun hubungan mereka. Masa yang panjang. Tinggal satu tahun lagi sampai mereka menikah. Begitu janji kekasihnya.
Lampu merah belok kiri.
Gadis itu mengurungkan niatnya membawa lelaki itu ke rumah. Ia mengajak lelaki itu makan walaupun perutnya sama sekali tak lagi butuh asupan. Di tempat itu ia hendak mendinginkan pikiran. Ia tak ingin cepat-cepat terbakar emosi. Dua kali ingkar janji tak lalu harus jadi alasan mengorbankan hubungan tiga tahun, bukan?
Kayaknya gw pernah liat lo.
Lho, “Mas”-nya ke mana?
Hehehe lo bilang tadi umur kita gak jauh. Gimana sih? Semua cowok itu emang plin-plan.
Enggak kok, buktinya sampai sekarang gw tetep pengen check in.
Dasar.
Emang cowok lo kenapa?
Hah?
Lo bilang tadi semua cowok plin-plan. Biasanya cewek selalu bilang gitu kalo baru ada masalah ama cowoknya. Semua cowok brengsek. Semua cowok gak bisa dipercaya. Ya, kan?
Itu temen. Gak percayaan amat.
OK de. Emang semua cewek jago pura-pura.
Hehehe. Iya deh kayaknya gw pernah liat lo.
Iya deh kayaknya.
Tuuu kan. Di mana ya?
Di bola kristal pas lo ke peramal di Mampang minggu kemarin. Inilah lelaki yang akan membuat hidupmu yang sia-sia itu menjadi berarti, kata peramal. Ya, kan?
Mangsud loooh?
Doyan Superman, ya?
Itu kan namakyu.
Superman? Lha katanya Uci.
Kan Suzie aslinya.
Ah Suziiiiiie namanya.
Telepon genggam gadis itu berkedap-kedip sambil berbunyi pendek.
Ada pesan masuk.
“From: My Love.
Km pergi sm laki2 manalagi sayang?”
Sisi L
Suzie sudah menunggu lama. 10 menit, 20 menit, 45 menit dia masih menunggu. Sekarang dia ganti memangku kaki kiri. Kopinya sudah habis. Pelayan datang karena lambaian. Pesanannya sama seperti yang di atas meja.
Tempat itu ramai, belum lagi genap dua tahun berdiri tapi sudah begitu penuh oleh manusia. Tua-muda, remaja, kanak-kanak. Kebanyakan remaja. Salah satu tempat tujuan wisata malam minggu di ibu kota. Ada pertunjukan musik, tempat makan, bioskop, dan kafe. Di malam-malam tertentu ada peragaan busana di tengah plaza. Tapi hanya diisi oleh para perancang busana kelas menengah. Tidak ada peragaan busana renang tentunya. Sayang, terlalu banyak anak-anak.
Ah, jam sepuluh lebih empat puluh lima menit, Suzie masih di situ. Tidak terasa 1 jam lebih 20 menit berlalu. Kopinya yang baru sudah habis separuh. Seorang lelaki yang dari tadi duduk tak jauh dari situ menghampiri. Bertanya apakah ia boleh menemani Suzie menunggu. Pria itu lantas duduk persis di sebelah Suzie yang sudah ganti memangku kaki kanan.
Lagi nunggu siapa?
Temen.
Kayaknya udah lama?
Iya, tapi sebentar lagi nyampe.
Sudah di-SMS?
Udah tadi, katanya sih udah naik tol.
Ooo.
Sama siapa, Mas?
Sama temen-temen
Ooo itu teman-temannya?
Iya.
Haiii... Suzie melambai. Yang pake baju merah lucu.
Hmm... dia lagi berduka.
Berduka kenapa?
Kemaren sore dia putus.
Ooo.... kirain....
Kamu gak lagi berduka kan? Pake baju merah juga.
Hahaha enggak. Saya udah lama pake baju merah hahaha.
Hahaha bagus.
Kok bagus?
Berarti saya gak perlu takut dipelototin sama yang kamu tunggu.
Hahaha, enggak kok. Cuman temen.
Suzie baru 22. Dia mengaku mahasiswa di perguruan tinggi swasta. Belajar humas katanya. Cantik. 170 cm, rambut hitam sepundak. Malam ini dia mengenakan halter merah, jeans, dan hak tinggi perak. Di lehernya ada liontin berinisial S. Logo Superman.
Boleh minta rokoknya, gak, Mas?
Silakan silakan.
Hmm saya sudah lama berhenti merokok.
Kenapa?
Mau berhenti aja.
Kamu sering jadi model ya?
Kok nanya gitu?
Iya, kelihatannya gitu. Ya, kan?
Gak sering, bantuin temen aja.
Ooo. Suka difoto?
Mas, wartawan ya? Nanya-nanya mulu.
Kalo di sini ada congklak, gw mau maen congklak ama lo.
Hahaha. Iya dee
Suzie memang menawan. Tawanya khas. Tawa itu bakal menarik hidungnya ke atas dan membuat dagunya berkerut lalu menunjukkan barisan giginya. Tapi tawanya tidak berlangsung lama. Suzie tiba-tiba kesal setelah membaca pesan di telepon genggamnya. Pelayan datang setelah lambaian tangannya.
Eh kenapa?
Bete gw.
Gak jadi dateng ya?
Gw dibohongin.
Terus mo ke mana?
Ke mana aja. Yuk?
Ke mana?
Ya, ke mana aja.
Check in, ya?
Rese lo.
Lha terus mo ke mana?
Ke mana aja. Bawa mobil kan?
Terus temen gw?
Suruh tunggu aja.
Hah? Suruh tunggu gimana?
Bilang aja check in sebentar. Hehehe
Lo yang bilang, ya.
Suzie menghampiri meja tak jauh dari sana. Di meja itu ada lima anak muda yang dari tadi memperhatikan mereka. Suzie bicara sebentar dan ia kembali kepada lelaki yang masih berdiri di kafe tadi. Ia menarik tangan lelaki itu.
Teleponnya berdering...
Ya?
...
Aku dah jalan.
...
Sama temen.
...
Sudah ya, aku matiin.
...
Teleponnya kembali berdering...
Lampu merah belok kiri.
Suzie bilang tempat ini dekat rumahnya. Tempat makan itu cukup luas untuk kelas warung tenda di emperan jalan. Parkirannya pun luas. Kebanyakan yang parkir di situ lupa mematikan mesin. Mungkin juga sengaja. Entahlah. Hampir 20 tahun tempat makan itu sudah ada di situ. Terkenal di seantero ibu kota. Sarah Azhari pun pernah terlihat makan roti bakar dan minum susu di tempat itu.
Kayaknya gw pernah liat lo.
Lho, “Mas”-nya ke mana?
Hehehe lo bilang tadi umur kita gak jauh. Gimana sih? Semua cowok itu emang plin-plan.
Enggak kok, buktinya sampai sekarang gw tetep pengen check in.
Dasar.
Emang cowok lo tadi kenapa?
Hah?
Lo bilang tadi semua cowok plin-plan. Biasanya cewek selalu bilang gitu kalo baru ada masalah ama cowoknya. Semua cowok brengsek. Semua cowok gak bisa dipercaya. Ya, kan?
Itu temen. Gak percayaan amat.
OK de. Emang semua cewek jago pura-pura.
Hehehe. Iya deh kayaknya gw pernah liat lo.
Iya deh kayaknya.
Tuuu kan. Di mana ya?
Di bola kristal pas lo ke peramal di Mampang minggu kemarin. Inilah lelaki yang akan membuat hidupmu yang sia-sia itu menjadi berarti, kata peramal. Ya, kan?
Mangsud loooh?
Doyan Superman, ya?
Itu kan namakyu.
Superman? Lha katanya Uci.
Kan Suzie aslinya.
Ah Suziiiiiie namanya.
Telepon genggam Suzie kembali berdering. Sebuah SMS.
Suzie mengisap rokoknya dalam-dalam. Sekarang sudah pukul 3 pagi. Ia membalut tubuhnya dalam selimut. Lelaki itu beranjak dari tempat tidur.
Gw ambil kamera ya?
Buat apa?
Gw mo bersihin lensa sama ngitungin baterainya masih cukup pa enggak. Ya buat motretlah.
Rese lo, gak usah. Buat apa coba?
Gw pengin motret lo lagi gitu. Kan asyik tuh lo bisa.... Tenaaaang, ntar gw...
OK tapi ...
Sip, jangan ke mana-mana.
Tempat itu masih ramai. Seperti tiga minggu lalu. Bedanya, minggu ini “Suzie” tidak sendiri. Ada seorang pria bersamanya. Dari jauh seorang lelaki melambai. “Suzie” tertawa memamerkan giginya.
Kenalin, Mas, ini Syd.
Sisi P
Lelaki itu melirik sekali lagi. Ini adalah kali kesekian ia melirik ke arah gadis itu. Gadis itu duduk sendiri di pelataran kafe. 10 menit, 20 menit, 45 menit mata lelaki itu masih mengintai. Dan gadis itu masih sendiri.
Gadis itu melambaikan tangannya dan pelayan datang menghampiri. Another latte. Matanya sekelebat melirik ke seberang ruangan. Lelaki itu masih di situ bersama lima rekannya. Mereka hanya satu dari sekian banyak kumpulan orang di tempat itu. Dari begitu banyak tempat yang ada, kafe adalah tempat berkumpul yang paling diminati. Meskipun terbilang baru, tempat ini cukup komplet menyediakan sarana hiburan. Selain discotheque, ada resto, bar, arena bermain, dan toko buku.
Ah, jam sebelas kurang seperempat. Para lelaki tadi masih di situ. Dan gadis itu mulai gelisah. Ia memperbaiki cara duduknya. Gadis itu tampak manis bersama cowl-neck halter merah yang dipadu dengan blue jeans. Kakinya yang jenjang dibalut 4 inch wedge heel berwarna perak.
Lelaki itu beranjak dari tempatnya. Ia menghampiri gadis itu. Gadis itu seakan-akan kaget ketika lelaki itu menyapanya, tapi ia mempersilakan lelaki itu duduk. Gadis itu kembali memperbaiki cara duduknya. Sekarang ia ganti memangku Dollhouse sebelah kanan.
Lagi nunggu siapa?
Temen.
Kayaknya udah lama?
Iya, tapi sebentar lagi nyampe.
Sudah di-SMS?
Udah tadi, katanya sih udah naik tol.
Ooo.
Sama siapa, Mas?
Sama temen-temen
Ooo itu teman-temannya?
Iya.
Haiii... Gadis itu tiba-tiba melambai. Yang pake baju merah lucu.
Hmm... dia lagi berduka.
Berduka kenapa?
Kemaren sore dia putus.
Ooo.... kirain....
Kamu gak lagi berduka kan? Pake baju merah juga.
Hahaha enggak. Saya udah lama pake baju merah hahaha.
Hahaha bagus.
Kok bagus?
Berarti saya gak perlu takut dipelototin sama yang kamu tunggu.
Hahaha, enggak kok. Cuman temen.
Lelaki itu sepertinya belum berkeluarga. Belum ada cincin yang melingkar di jemari. Dia bekerja di sebuah perusahaan milik keluarganya. Dia tampan dan punya tatapan mata yang tajam. Si gadis tampak terpesona. Gerak-geriknya menunjukkan ia suka lelaki itu. Tapi ia sedang menunggu seseorang. Dan seseorang itu mungkin tidak akan datang lagi malam ini. Kali kedua dalam minggu yang sama setelah pertengkaran hebat. Lagi-lagi dia ingkar janji. Sebuah kesalahan besar karena dia tak akan lagi memaafkannya. Tidak kali ini. Dia nyaris menemukan penggantinya. Lelaki tampan yang ada di depannya.
Boleh minta rokoknya, gak, Mas?
Silakan silakan.
Hmm saya sudah lama berhenti merokok.
Kenapa?
Mau berhenti aja.
Kamu sering jadi model ya?
Kok nanya gitu?
Iya, kelihatannya gitu. Ya, kan?
Gak sering, bantuin temen aja.
Ooo. Suka difoto?
Mas, wartawan ya? Nanya-nanya mulu.
Kalo di sini ada congklak, gw mau maen congklak ama lo.
Hahaha. Iya dee
Telepon genggam gadis itu berdering pendek. Sebuah pesan masuk. Pesan dari seseorang yang ia tunggu malam itu. Yup, dia tidak datang lagi. Sebuah bukti, laki-laki itu tidak ingin lagi bersamanya. Gadis itu melambai meminta bill.
Eh kenapa?
Bete gw.
Gak jadi dateng ya?
Gw dibohongin.
Terus mo ke mana?
Ke mana aja. Yuk?
Ke mana?
Ya, ke mana aja.
Check in, ya?
Rese lo.
Lha terus mo ke mana?
Ke mana aja. Bawa mobil kan?
Terus temen gw?
Suruh tunggu aja.
Hah? Suruh tunggu gimana?
Bilang aja check in sebentar. Hehehe
Lo yang bilang, ya.
Si gadis langsung berdiri dan menghampiri teman-teman lelaki itu dan mengatakan bahwa ia tidak akan segera kembali. Teman-teman lelaki itu mempersilakan sambil tertawa-tawa. Gadis itu menarik tangan lelaki tadi.
Teleponnya berdering...
Ya?
...
Aku dah jalan.
...
Sama temen.
...
Sudah ya, aku matiin.
...
Teleponnya kembali berdering...
Gadis itu patah hati. Ia ingin membawa lelaki itu ke rumah kosnya tak jauh dari situ. Tinggal belok kanan di ujung jalan. Dia ingin membuat kekasihnya sakit hati. Dia ingin tidur bersama lelaki yang baru dikenalnya. Yang bahkan tidak diketahui asal-usulnya. Apakah ia benar-benar belum berkeluarga. Apakah ia juga belum punya kekasih. Apakah ia.... Gadis itu menutup rapat-rapat pikirannya. Ia telanjur patah hati.
Sebentar ia ingat liontin yang menggantung di lehernya. Hadiah dari kekasih. Liontin dengan inisial nama. Sepasang yang lain, yang berinisial nama si gadis, dikenakan sang kekasih. Hadiah untuk peringatan 3 tahun hubungan mereka. Masa yang panjang. Tinggal satu tahun lagi sampai mereka menikah. Begitu janji kekasihnya.
Lampu merah belok kiri.
Gadis itu mengurungkan niatnya membawa lelaki itu ke rumah. Ia mengajak lelaki itu makan walaupun perutnya sama sekali tak lagi butuh asupan. Di tempat itu ia hendak mendinginkan pikiran. Ia tak ingin cepat-cepat terbakar emosi. Dua kali ingkar janji tak lalu harus jadi alasan mengorbankan hubungan tiga tahun, bukan?
Kayaknya gw pernah liat lo.
Lho, “Mas”-nya ke mana?
Hehehe lo bilang tadi umur kita gak jauh. Gimana sih? Semua cowok itu emang plin-plan.
Enggak kok, buktinya sampai sekarang gw tetep pengen check in.
Dasar.
Emang cowok lo kenapa?
Hah?
Lo bilang tadi semua cowok plin-plan. Biasanya cewek selalu bilang gitu kalo baru ada masalah ama cowoknya. Semua cowok brengsek. Semua cowok gak bisa dipercaya. Ya, kan?
Itu temen. Gak percayaan amat.
OK de. Emang semua cewek jago pura-pura.
Hehehe. Iya deh kayaknya gw pernah liat lo.
Iya deh kayaknya.
Tuuu kan. Di mana ya?
Di bola kristal pas lo ke peramal di Mampang minggu kemarin. Inilah lelaki yang akan membuat hidupmu yang sia-sia itu menjadi berarti, kata peramal. Ya, kan?
Mangsud loooh?
Doyan Superman, ya?
Itu kan namakyu.
Superman? Lha katanya Uci.
Kan Suzie aslinya.
Ah Suziiiiiie namanya.
Telepon genggam gadis itu berkedap-kedip sambil berbunyi pendek.
Ada pesan masuk.
“From: My Love.
Km pergi sm laki2 manalagi sayang?”
Subscribe to:
Comments (Atom)









