Blog

hi nis, thx nis!
sweet jane














thanks buat "misterius". ngedit gambar sama cak berry emang uenak tenan...
setelah 2 hari 1 jam 35 menit
she's back! hihihi
Tak ada yang terzalimi dalam poligami. Kalau tak setuju suaminya menikah lagi, istri bisa minta cerai. Poligami itu pilihan yang disediakan Islam. Kebutuhan dan kondisi setiap orang berbeda-beda. Ada perempuan yang mencari suami yang matang dan dewasa. Kalau pilihannya orang beristri dan dia bersedia menjadi istri kedua, kenapa tidak. Laki-laki juga begitu. Bisa karena kebutuhan seksual, bisa juga karena istrinya tak hamil-hamil.

Islam mengatur agar penyaluran syahwat bermanfaat secara sosial. Maka ada aturan soal mengayomi anak yatim dan janda. Setidaknya poligami lebih bermanfaat dibanding melacur. Konsep adil yang diatur itu menyangkut kuantifikasi, seperti jatah hari dan nafkah. Sementara adil menurut surat Annisa ayat 129 itu adil secara emosional. Ayat itu menyebutkan laki-laki tidak bisa berbuat adil terhadap para istri. Jangankan pada istri, perasaan pada anak saja bisa lain-lain. Kita tak akan bisa adil secara emosional.

anis matta

(sekretaris jenderal partai keadilan sejahtera dan pelaku poligami)

menurut saya, istri kedua bapak anis tidak akan melacur di pinggir jalan ataupun di hotel-hotel melati apalagi dipake anggota dewan yang terhormat bila tidak dinikahi oleh bapak anis. atau barangkali saya salah?

sekarang menurut Citra...
kekekekekkkkk


(dikutip dari Tempo, 17 Desember 2006)


apdetannye: yg penasaran ama komentar citra silakan liat di sini
anyer
blog flora dan fauna : )

Soal TV

Seusai makan siang yang sederhana di Warteg 22 seorang teman yang mantan wartawan dan bekas temen satu kontrakan itu sepertinya hendak mengungkapkan kegelisahannya soal acara TV. Dalam hati saya berpikir, pasti soal smackdown, setelah dia bertanya, “Lo masih suka nonton TV?”. Tapi untung saya punya jawaban yang mungkin tidak bakal menggiring obrolan kami yang harusnya menjadi obrolan penuh nostalgia itu menjadi obrolan bernada kampanye anti-TV: pengumbar kekerasan, sinetron mimpi, reality show munafik, jurnalisme murahan ala infotainment, iklan-iklan yang tidak mendidik, promosi-promosi perangsang konsumerisme, AC Nielsen brengsek, blablabla. “Gw kan gak punya TV di kos, Jek.” Tapi si teman ini rupanya tidak menyerah. “Tapi kan lo suka nonton TV di kantor,” katanya. “Ooo itu juga dihitung? Itu kan Indovision,” jawab saya sekenanya. “Iya sih, nonton. Terus kenapa? Eh BTW lo dah bayar?” jawab saya sambil menunjuk makanan di meja. “Oh iya, belum,” jawabnya sambil merogoh kantong sembari memanggil pelayan warteg. Saya langsung berlalu dari situ.

Babak kedua, di dalam mobil. “Biasanya lo suka nonton apa aja?” tanyanya seketika. “Errr macem-macem sih. Tapi biasanya peragaan busana he-he-he. O iya sama binatang-binatang gitu deh,” jawab saya. “Nah, gw pengen tahu, menurut lo...” Di situ saya langsung menyela, “Eh di warung depan berhenti dulu, ambil kiri.” Diiringi klakson mobil belakang si teman protes, “Eh gila lo. Mo ngapain?” Sambil menengok ke belakang, “Berhenti dulu, mo beli rokok he-he-he.”

“Ooo di sini kantor kalian?” kata si teman ketika sampai di kantor saya. “Mo mampir dulu, apa mo langsung?” tanya saya hati-hati. “Ah gw langsung aja ya. Buru-buru. Salam aja ama si xxx,” katanya. “Oke deh, ntar gw sampein.” Setelah turun dari mobil, ada perasaan tidak enak juga melihat si teman gagal menyampaikan unek-uneknya.

“Eh, emang kenapa lo nanya-nanya soal TV?” tanya saya sesaat sebelum ia menutup jendela mobilnya. “O iya. Enggak cuma pengen tahu aja, lo doyan nonton TV, gak?” tanyanya. “Iya sih, kadang-kadang. Emang kenapa?,” saya balik bertanya. “Gini, TV lo kan lama banget dipinjem si xxx. Nah ternyata kemarin si xxx udah beli TV baru. Gimana kalo gw gantian minjem he-he-he. TV gw jebol euy,” jawabnya sambil cengar-cengir. “O iya sama DVD-nya juga ya he-he-he.”
biar agak telat... mo ngucapin selamat aja ama aa gym.
hihihi tau aja situ ama yg enak2 kekekekkkkk